Sebuah catatan kenangan tentang Reza Bunaiya

source
"Sudah mulai bengkak lagi," katamu waktu itu dengan sedikit sendu. Saat itu kami mengunjungimu sambil berlebaran. Kau mengelus lehermu sebentar dan kemudian tersenyum dan bercanda lagi seakan perkataan tadi tak pernah ada. Saat itu kami agak lega karena kondisi fisikmu yang jauh lebih baik. Sudah bisa kembali membawa motor bahkan ikut berbuka puasa bersama, ikut tertawa dengan candaan teman-teman yang lain dan geleng-geleng kepala dengan tawa tertahan ketika aku membully Nasir. Kami optimis tidak lama lagi seorang Reja akan kembali seperti dulu. 

Ternyata Allah terlalu sayang, teramat sayang dengan memberikan ujian lagi kepadamu. Beberapa bulan kemudian, Mutia memberi informasi bahwa sakitmu datang lagi dan lagi lagi kau optimis walau ini kali kedua, kau akan mampu melewatinya. Aku mengirim bbm dengan Bahasa Indonesia yang amat panjang, agak janggal sebenarnya karena aku dan siti biasanya menggunakan Bahasa Aceh jika kita berkomunikasi dan jawabanmu membuat aku tersenyum, yah kau membuktikan bahwa Reja ya Reja. Kau juga membalas dengan bertanya,"nyan padup trep ka meupikee segolom ka kirim keu lon?" Dan aku dengan sedikit malu membalas,"aneh ya Ja, awkward cit untok lon, hehee"

Dan menstalkingmu menjadi salah satu hobi baruku. Aku hanya ingin tau bagaimana kabarmu tanpa harus bertanya padamu. Dan ajaibnya dari dulu kau menganggap santai semua masalahmu. Tak ada kata keluhan yang pernah kau tulis dan aku sering mencari kalimat-kalimat yang menjurus keluhan (dan tak kutemukan). Malah pertandingan bola lebih seru bagimu atau teman seruangan di RS yang katamu mirip pemain bola. Atau bagaimana rindunya kau untuk ngopi dan makan sate kambing. Terkadang kau membalas twit dengan reply yang memang khas dirimu. Membuatku malu dengan diri sendiri yang masih suka mengeluh.

Tadi malam aku dan Siti membahas saat kita SMA, obrolan yang tidak pernah bosan untuk dibahas. Kita adalah anak2 yang lebih memilih sarapan terlebih dahulu dengan muka bantal plus belekan yang belum sepenuhnya hilang di dapur asrama daripada mandi. Masih ingat nggak Ja ketika kita observasi hayati (yang lebih banyak mainnya) di Tapak Tuan. Kau penyelamat kami (aku dan Siti) yang tenggelam di air terjun yang waktu itu dianggap candaan dan pura-pura oleh teman-teman yang lain dan kami mebalasnya dengan menyebar gosip lovey dovey yang sebenarnya hoax belaka. Ketika gosip tersebar kau malah curhat dengan kami yang kami tanggapi dengan muka sok polos. Bagaimana kami menjadi provokator dan memanas-manasimu. Dan ketika kami jalan-jalan dengan entengnya kami berbelok kerumahmu dan meminta uang untuk beli bensin (dan kau juga menawari kami dengan ajakan makan dirumah), ketika study tour ke Padang yang memang settingan, para troublemaker berada dalam mobil yang sama dan diawasi pak Syamsul yang terkadang tak bisa berkata banyak dengan ulah kita dimobil. Tragedi mi kekek yang tidak tepat sasaran, kami tidak menyangka mi yang penuh tragedi itu dimakan oleh Nasir (dan kau hanya tertawa ketika aku membuat pengakuan). Aku masih ingat saat mencuri dengar obrolan kunci jawaban antara kau dan Fatir dan gregetan dengan cara nyontek kalian apalagi kau Ja, ketika bertanya jawaban dan kalau berbeda dengan jawabanmu kau pasti akan bertanya, "pake cara apa?". Aku selalu membatin ini ulangan bukan diskusi kelas, tak ada waktu untuk bertanya selain kunci jawaban. Posisi tempat dudukku ditengah kalian membuat aku terkadang merasa diuntungkan. Aku masih ingat saat kau menjawab gila ketika waktu itu sedang booming saling mengirim sms "berikan satu kata yang menggambarkan aku" yang membuat aku menyesal mengirimnya kepadamu dan teman-teman yang lain karena jawaban kalian yang rata-rata tidak ada manisnya. Bagaimana aku dan Siti kepo dengan kehidupan selepas SMA dan selalu memanas-manasimu dengan "enak ya di Jawa". Masih banyak kenangan lainnya yang tumpah ruah bermunculan dan kau Ja ada disana sebagai salah satu sahabat kami yang mewarnai perjalanan SMA kita.

Sekarang kau telah berpulang. Ternyata Allah tak mau berlama menunggumu. Insya Allah kau ditempatkan di tempat terbaik disisiNya. Kau adalah teman, sahabat dan saudara kami yang terhebat. Terima kasih atas semua kenangan dan pelajaran kehidupan yang kau berikan. Maaf, aku dan siti belum bisa menjadi teman yang baik untukmu. "Allahummaghfir lahu warhamhu, wa'aafihi wa'fu 'anhu..."

source

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Moisture White Shiso™ BB Serum Inside Review

[TUTORIAL] CARA MEMBUAT HEADER BLOG TANPA PHOTOSHOP

Cara membuat quote atau meme dengan Pixteller